Bagaimana Pembatasan Sosial Mengurangi Resiko Penularan COVID-19

Oleh : Dido Abidin

 27921435f70b4f18975a598732c754b7 18

Jumlah pasien positif Virus Corona (COVID-19) terus bertambah dengan total kasus mencapai 7.135. Bahkan korban meninggal akibat Virus Corona telah mencapai 616 orang. Jumlah tersebut belum termasuk kerugian finansial maupun dampak sosial budaya bagi masyarakat. Kasus penularan Virus Corona terus bertambah serta telah menjadi pandemi global. Hingga saat ini pemerintah di seluruh dunia masih belum menemukan obat maupun tindakan yang secara efektif dapat mengatasi virus varian baru tersebut.

Sejak 31 Maret lalu, pemerintah Indonesia mulai memberlakukan pembatasan sosial (social distance) serta menganjurkan masyarakat untuk melakukan isolasi mandiri jika merasa telah berinteraksi dengan penderita maupun menunjukkan gejala-gejala Virus Corona. Pemberlakuan pembatasan sosial juga telah dianjurkan World Health Organization (WHO) maupun lembaga-lembaga kesehatan dari seluruh dunia seperti Center of Disease Control (CDC).

Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran COVID-19 seperti mencuci tangan, mengarahkan batuk ke siku, maupuaana menghindari menyentuh wajah. Sementara pembatasan sosial dilakukan melalui cara-cara menghindari pertemuan massal serta mempertahankan jarak sekitar 3 meter dari orang lain jika memungkinkan. Pembatasan sosial pada dasarnya lebih ditujukan untuk meminimalisir penularan, serta melindungi diri maupun komunitas sosial. Hal ini sangat penting mengingat COVID-19 dapat menyebar melalui cairan tubuh (droplet) penderita yang masuk pada tubuh orang lain.

Konsep lain dari pembatasan sosial adalah "meratakan kurva" jumlah penderita, yaitu mengurangi jumlah penderita pada satu waktu. Dengan asumsi bahwa jika terjadi lonjakan jumlah penderita COVID-19 sekaligus, berpotensi melumpuhkan fasilitas dan sumber daya/tenaga kesehatan. Pembatasan sosial membantu menjaga jumlah orang yang sakit pada satu waktu serendah mungkin.

Pembatasan sosial idealnya mulai diterapkan sebelum penyakit seperti COVID-19 meluas di suau wilayah. Situasi setiap masyarakat selalu unik, sehingga penting untuk mengikuti panduan dari pemerintah daerah, dinas kesehatan dan penyedia layanan kesehatan setempat.

Pemerintah Indonesia juga mulai memberlakukan aturan bekerja dari rumah (work from home), meliburkan aktivitas pendidikan, memberlakukan larangan berkumpul lebih dari 30 orang, serta mengkampanyekan berbagai upaya pencegahan lain yang dapat dilakukan secara individu maupun kelompok. Sebagian daerah bahkan telah menerapkan sanksi bagi yang melanggar kebijakan tersebut. Negara lain bahkan telah menutup akses maupun pemanfaatan fasilitas publik (lockdown) secara ketat.

Jika seseorang mengalami gejala COVID-19, seperti nafas pendek, demam di atas 37,5 celcius, batuk kering, menggigil, mata merah, kehilangan bau dan rasa, kelelahan ekstrim, serta sakit kepala disertai tersumbatnya hidung dan tenggorokan, maka sangat disarankan agar melakukan isolasi mandiri. Isolasi mandiri dapat dilakukan di rumah selama tetap membatasi interaksi dengan orang lain sedikit mungkin.

Namun demikian, pada dasarnya masyarakat tidak perlu terlalu khawatir dan justru harus dapat bertindak kooperatif serta mendukung upaya pemerintah tersebut. Kekhawatiran yang berlebih di kalangan masyarakat justru dapat memperparah kondisi yang terjadi saat ini.

Posted in Lingkar Khatulistiwa

Tags: Kesehatan,, Social distance,, Pembatasan Sosial,, Virus Corona,, COVID-19,

 Cetak  E-mail

Profil

LINGKAR KHATULISTIWA INSTITUTE merupakan forum pemikiran progresif yang independen dan nonpartisan terkait analisis kebijakan publik di Indonesia. Kami berusaha untuk memadukan metode penelitian lintas keilmuan dalam mengkaji permasalahan yang berkembang

SELENGKAPNYA

Alamat & Kontak

Jalan Cengkeh No 1. Margonda Raya. Depok
 
(021) 643 176
 
info@lingkarkhatulistiwa.com
www.lingkarkhatulistiwa.org