Panas Bumi sebagai alternatif Utama Pengganti Batubara

Oleh: Zulfa Maria

Batubara merupakan sumber energi utama untuk pembangkitan listrik dan berfungsi sebagai bahan bakar pokok untuk produksi baja dan semen. Namun demikian, batubara juga memiliki karakter negatif yaitu disebut sebagai sumber energi yang paling banyak menimbulkan polusi akibat tingginya kandungan karbon. Sumber energi penting lain, seperti gas alam, memiliki tingkat polusi yang lebih sedikit namun lebih rentan terhadap fluktuasi harga di pasar dunia. Dengan demikian, semakin banyak industri di dunia yang mulai mengalihkan fokus energi mereka ke batubara. Namun demikian, sebagai sumber energi tak terbarukan, diperkirakan cadangan batubara dunia akan habis dalam kurun waktu 112 tahun ke depan.

Dikutip dari BP Statistical Review of World Energy 2017, Indonesia masuk dalam lima besar produsen batubara di dunia. Sementara untuk cadangan batubara gobal, Indonesia menempati urutan ke sembilan (2,2% dari total cadangan batubara global) dengan sumber cadangan terbesar terdapat di Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Berdasarkan data terakhir dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Mei 2018, cadangan batubara Indonesia mencapai 26,2 miliar ton. Dengan produksi batubara sebesar 461 juta ton tahun lalu, maka umur cadangan batubara masih 56 tahun apabila diasumsikan tidak ada temuan cadangan baru. Selain cadangan batubara, masih ada juga sumber daya batubara yang tercatat sebesar 124,6 miliar ton. Untuk itu, Pemerintah terus mendorong upaya eksplorasi dalam rangka meningkatkan cadangan batubara tersebut.

Kalimantan tercatat sebagai wilayah yang menyimpan cadangan batubara terbesar, yaitu 14,9 miliar ton, disusul oleh Sumatera (11,2 miliar), dan Sulawesi (0,12 juta). Di wilayah Kalimantan, cadangan terbesar berada di wilayah Kalimantan Timur sebesar 7,5 miliar ton, Kalimantan Selatan sebesar 4,2 miliar ton dan Kalimantan Tengah 2,1 miliar ton. Sementara, Sumatera Selatan menjadi daerah yang memiliki cadangan terbesar di wilayah Sumatera dengan cadangan 8,9 miliar ton, disusul Jambi sebesar 1,1 miliar ton.

Dikutip dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, rata-rata pemanfaatan batubara diperuntukkan untuk kelistrikan sebesar 83% dan selebihnya untuk industri semen, pupuk, tekstil pulp, metalurgi, briket dan lainnya sebesar 17%. Selain pemanfaatan dalam negeri, batubara juga diekspor dalam rangka kontribusi terhadap penerimaan negara. Beberapa negara tujuan ekspor antara lain China (51 juta ton), India (46 juta ton) dan Jepang (22 juta ton) disamping 25 negara lainnya.

Pemerintah mengupayakan agar ekspor batubara terus menurun bertahap, seiring dengan meningkatnya pemanfaatan dalam negeri utamanya sebagai energi primer untuk pembangkit listrik. Namun disamping itu, perlu juga adanya upaya untuk mengurangi penggunaan batubara sebagai sumber energi primer. Hal ini karena batubara merupakan sumber energi tak terbarukan sehingga kita perlu mencari sumber energi alternatif dari sumber daya alam di Indonesia seperti biomasa, panas bumi, energi surya, energi air, dan energi angin.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan bahwa angin sebagai sumber tenaga pembangkit di Indonesia sangat terbatas karena hanya ada di bagian selatan Sulawesi Selatan. Sementara itu, tenaga surya memilki biaya penyimpanan yang lebih tinggi dibandingkan batubara sehingga kurang dilirik oleh para pelaku industri kelistrikan di Tanah Air. Oleh karena itu, sumber energi tebarukan lebih baik difokuskan pada pengembangan tenaga air, panas bumi, dan biomassa.

Indonesia terletak di salah satu kerangka tektonik yang paling aktif di dunia, yakni di antara perbatasan Indo-Australia, Pasifik, Filipina dan lempeng tektonik Eurasia. Posisi strategis tesebut menjadikan Indonesia sebagai negara paling kaya dengan energi panas bumi yang tersebar di 285 titik daerah sepanjang busur vulkanik. Menurut pakar energi Achmad Madjedi Hasan, jumlah potensi energi panas bumi yang dimiliki Indonesia bisa dimanfaatkan pemerintah untuk mendiversifikasi energi. Langkah diversifikasi dari energi panas bumi diyakini mampu menciptakan ketahanan energi. Salah satunya dengan pemanfaatan untuk pembangkit tenaga listrik.

Saat ini, Pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) jadi andalan pencapaian bidang energi terbarukan dan konservasi energi. Hingga tiga bulan pertama 2018, Direktorat Jendral Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) mencatat, kapasitas terpasang PLTP hingga kini mencapai 1.924,5 Megawatt dari target 2.058,5 Megawatt pada akhir tahun 2018. Capaian ini membuat Indonesia menempati posisi kedua setelah Amerika Serikat dalam pemanfaatan panas bumi sebagai tenaga listrik, menggeser Filipina dengan capaian sebesar 1.870 Megawatt.

Saat ini Indonesia mempunyai cadangan panas bumi sebanyak 17.506 Megawatt dan sumber daya 11.073 Megawatt. Potensi ini tersebar di 331 titik dari Sabang sampai Merauke. Pemanfaatan hingga saat ini baru 11,03%, jadi masih banyak peluang untuk mengembangkan panas bumi sekaligus memenuhi kebutuhan energi nasional. Untuk itu, pemerintah menerbitkan regulasi khusus mengenai panas bumi dalam UU No 21 tahun 2014 tentang Panas Bumi dan Peraturan Pemerintah No 7 tahun 2017 tentang panas bumi untuk pemanfaatan tidak langsung serta peraturan teknis lain.

Dari segi penerimaan negara, panas bumi memberi kontribusi Rp220,07 miliar atau 31,4% dari target APBN 2018 sebesar Rp700 miliar hingga akhir tahun. Komposisi pendapatan nasional bukan pajak (PNBP) ini berasal dari wilayah kerja panas bumi (WKP) eksisting Rp909 miliar dan WKP pemegang izin panas bumi Rp24 miliar.

Selain mampu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak dan fosil, sumber energi panas bumi juga akan membatasi emisi gas rumah kaca (greenhouse gas).  Hal ini sesuai dengan target Pemerintah Indonesia terkait bauran energi 23% pada 2025 sebagai bagian dari "Nationally Determined Contribution" (NDC) di bawah Perjanjian Iklim Paris 2015. Data Bappenas menunjukkan hingga 2016, Indonesia telah mampu menurunkan 13,47 persen emisi gas rumah kaca.

Dari data-data tersebut, Indonesia dapat terus memanfaatkan panas bumi sebagai sumber energi utama di masa yang akan datang. Meskipun demikian, pemerintah perlu tetap memerhatikan faktor keamanan dalam pengembangan panas bumi dengan meminimalisir dampak negatif terhadap lingkungan serta meningkatkan keberlanjutan produksi panas bumi dan peran industri panas bumi dalam upaya konservasi.

 

Posted in Publikasi

 Cetak  E-mail

Profil

LINGKAR KHATULISTIWA INSTITUTE merupakan forum pemikiran progresif yang independen dan nonpartisan terkait analisis kebijakan publik di Indonesia. Kami berusaha untuk memadukan metode penelitian lintas keilmuan dalam mengkaji permasalahan yang berkembang

SELENGKAPNYA

Alamat & Kontak

Jalan Cengkeh No 1. Margonda Raya. Depok
 
(021) 643 176
 
info@lingkarkhatulistiwa.com
www.lingkarkhatulistiwa.org